Mas Pur Seorang freelance yang suka membagikan informasi, bukan hanya untuk mayoritas tapi juga untuk minoritas. Hwhw!

Home » Kerajaan » Sejarah » Perang Batak (1878–1904)

Perang Batak (1878–1904)

1 min read

Perang Tapanuli atau secara umum dikenal dengan Perang Batak adalah perang yang terjadi antara Kerajaan Batak melawan Belanda yang berlangsung dari tahun 1879 hingga 1907. Pusat Kerajaan Batak pada saat itu terletak di Bakkara (sebelah barat daya Danau Toba) dengan raja terakhir Kerajaan Batak bernama Sisingamangaraja XII. Adapun penyebab terjadinya Perang Batak adalah sebagai berikut.

Penyebab Terjadinya Perang Batak

Berikut adalah alasan penyebab terjadinya perlawanan masyarakat Batak terhadap Belanda.

  • Raja Sisingamangaraja XII tidak bersedia wilayah kerajaannya semakin diperkesil oleh Belanda Raja Sisingamangaraja XII tidak dapat menerima kota Natal, Mandailing, Angkola, dan Sipirok di Tapanuli Selatan dikuasai Belanda.
  • Belanda ingin mewujudkan Pax Netherlandica. Untuk mewujudkan Pax Netherlandica Belanda menguasai daerah Tapanuli Utara sebagai lanjutan atas pendudukannya di Tapanuli Selatan dan Sumatra Timur. Belanda menempatkan pasukannya di Taruntung dengan alasan untuk melindungi para penyebar agama Kristen yang bergabung dalam Rhijnsnhezending. Tokoh penyebarnya bernama Nomensen (Orang Jerman).

Perang Batak (1878-1907)

Untuk menghadapi Beland atersebut, Sisingamangaraja XII pada tahun 1878 menyerang kedudukan Belanda di daerah Tapanuli Utara. Peperangan berlangsung kira-kira selama tujuh tahun.

Belanda mengerahkan pasukan untuk menguasai Bakkara sebagai pusat kekuasaan Sisingamangaraja XII, kemudian terjadi pertempuran sengit di daerah Pakpak Dairi, sebelah barat Danau Toba.

Pasukan Van Daalen yang beroperasi di Aceh melanjutkan gerakannya ke Tapanuli Utara pada tahun 1904, sedangkan di Medan didatangkan pasukan lain melalui Kabanjahe dan Sidikalang.

Akhir Perang Batak

Akhir dari Perang Batak, pasukan Marsose di bawah pimpinan Kapten Christoffle berhasil menangkap keluarga Sisingamangaraja XII. Sisingamangaraja XII beserta pengikutnya melarikan diri ke hutan Simsim.

Dalam pertempuran tanggal 17 Juni 1907, Sisingamangaraja XII gugur bersama seorang putrinya yang bernama Lapian dan dua orang putranya yang bernama Patuan Nagari dan Patuan Anggi serta sejumlah pengikutnya.

Jenazah Sisingamangaraja XII dibawa ke Taruntung dan dimakamkan di depan tangsi militer Belanda, kemudian pada tahun 1953 makam Sisingamangaraja XII dipindahkan ke Soposurung di Balige.

Dampak Perang Batak

Batak tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan rumah saja, namun juga berdampak pada berbagai bidang yaitu sebagai berikut.

  • Bidang politik: seluruh daerah di Tapanuli dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.
  • Bidang ekonomi: Belanda memonopoli atau menguasai perdagangan di Tapanuli, terutama hasil perkebunan.
  • Bidang sosial: tersebarnya agama Kristen di Tapanuli secara meluas, sehingga menyebabkan berubahnya keyakinan masyarakat sebelumnya.

Baca juga: Perang Padri (1803-1821) : Kaum Padri Lawan Kaum Adat

Nah, itulah dia artikel singkat tentang Perang Batak atau perang Kerajaan Batak melawan Belanda. Demikian artikel yang dapat freedomsiana.id bagikan tentang perang di Indonesia melawan kolonialisme Belanda. Sekian dan semoga bermanfaat.

Mas Pur Seorang freelance yang suka membagikan informasi, bukan hanya untuk mayoritas tapi juga untuk minoritas. Hwhw!

2 Replies to “Perang Batak (1878–1904)”

  1. Kak….
    Kalau dampak perang batak dalam bidang sastra, bidang pendidikan dan bidang budaya nya mana kak??
    Agar tugas sejarah saya selesai
    Mohon bantuan ny buat kakak”???????

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *